Biografi Stephen Hawking

Stephen Hawking

Stephen William Hawking, CH, CBE, FRS (lahir di Oxford, Britania Raya, 8 Januari 1942; umur 68 tahun[1]), adalah seorang ahli fisika teoretis. Ia adalah seorang profesor Lucasian dalam bidang matematika di Universitas Cambridge dan anggota dari Gonville and Caius College, Cambridge. Ia dikenal akan sumbangannya di bidang fisika kuantum, terutama karena teori-teorinya mengenai teori kosmologi, gravitasi kuantum, lubang hitam, dan radiasi Hawking.
Salah satu tulisannya adalah A Brief History of Time, yang tercantum dalam daftar bestseller di Sunday Times London selama 237 minggu berturut-turut.Meskipun mengalami tetraplegia (kelumpuhan) karena sklerosis lateral amiotrofik, karier ilmiahnya terus berlanjut selama lebih dari empat puluh tahun.
Buku-buku dan penampilan publiknya menjadikan ia sebagai seorang selebritis akademik dan teoretikus fisika yang termasyhur di dunia. .

Kehidupan awal dan pendidikan

Stephen Hawking lahir pada 8 Januari 1942 dari pasangan Dr. Frank Hawking, seorang biolog, dan Isobel Hawking. Ia memiliki dua saudara kandung, yaitu Philippa dan Mary, dan saudara adopsi, Edward.

Orang tua Hawking tinggal di North London dan pindah ke Oxford ketika ibu Hawking sedang mengandung dirinya untuk mencari tempat yang lebih aman. (London saat itu berada dibawah serangan Luftwaffe Jerman).

Setelah Hawking lahir, keluarga mereka kembali ke London. Ayahnya lalu mengepalai divisi parasitologi di National Institute for Medical Research. Pada tahun 1950, Hawking dan keluarganya pindah ke St Albans, Hertfordshire. Di sana ia bersekolah di St Albans High School for Girls dari tahun 1950 hingga 1953 (pada masa itu, laki-laki dapat masuk ke sekolah perempuan hingga usia sepuluh tahun).
Dari usia sebelas tahun, ia bersekolah di St Albans School.
University College, Oxford, tempat Hawking berkuliahHawking selalu tertarik pada ilmu pengetahuan. Ia terinspirasi dari guru matematikanya yang bernama Dikran Tahta untuk mempelajari matematika di universitas. Ayahnya ingin agar Hawking masuk ke University College, Oxford, tempat ayahnya dulu bersekolah.

Hawking lalu mempelajari ilmu pengetahuan alam. Ia mendapat beasiswa, dan lalu berspesialisasi dalam fisika.Setelah menerima gelar B.A. di Oxford pada 1962, ia tetap tinggal untuk mempelajari astronomi. Ia memilih pergi ketika mengetahui bahwa mempelajari bintik matahari tidak sesuai untuknya dan Hawking lebih tertarik pada teori daripada observasi.
Hawking lalu masuk ke Trinity Hall, Cambridge. Ia mempelajari astronomi teoretis dan kosmologi.Segera setelah tiba di Cambridge, gejala sklerosis lateral amiotrofik (ALS) yang akan membuatnya kehilangan hampir seluruh kendali neuromuskularnya mulai muncul. Pada tahun 1974, ia tidak mampu makan atau bangun tidur sendiri.
Suaranya menjadi tidak jelas sehingga hanya dapat dimengerti oleh orang yang mengenalnya dengan baik. Pada tahun 1985, ia terkena penyakit pneumonia dan harus dilakukan trakeostomi sehingga ia tidak dapat berbicara sama sekali.
Seorang ilmuwan Cambridge membuat alat yang memperbolehkan Hawking menulis apa yang ingin ia katakan pada sebuah komputer, lalu akan dilafalkan melalui sebuah voice synthesizer’.

Karier dalam fisika teoretis
Mengenai keberadaan kehidupan ekstraterestrial


Stephen Hawking dalam keadaan gravitasi nol

Hawking meyakini bahwa kehidupan ekstraterestrial memang ada, dan ia menggunakan basis matematis untuk asumsinya. “Menurut otak matematisku, angka menunjukan bahwa keberadaan alien sangatlah rasional.
Tantangan terbesar adalah memperkirakan seperti apakah alien itu.” Ia meyakini bahwa alien tidak hanya ada di planet-planet, tetapi mungkin juga di tempat lain, seperti bintang atau mengapung di angkasa luas.

Hawking juga memperingati bahwa beberapa spesies alien mungkin memiliki peradaban yang maju dan dapat mengancam Bumi. Hubungan dengan spesies seperti itu dapat membahayakan seluruh umat manusia. Ia mengatakan, “Jika alien mengunjungi kita, hasilnya akan sama seperti ketika Columbus mendarat di Amerika, yang tidak berakhir baik bagi penduduk asli Amerika”.

Hawking juga menyarankan, daripada mencoba menghubungi alien, sebaiknya kita menghindari hubungan dengan mereka.Kehidupan pribadi
Hawking menikah dengan Jane Wilde, seorang murid bahasa, pada tahun 1965. Jane Hawking mengurusnya hingga perceraian mereka pada tahun 1991. Mereka bercerai karena tekanan ketenaran dan meningkatnya kecacatan Hawking.
Mereka telah dikaruniai tiga anak: Robert (lahir 1967), Lucy (lahir 1969), dan Timothy (lahir 1979). Hawking lalu menikahi perawatnya, Elaine Mason (sebelumnya menikah dengan David Mason, perancang komputer bicara Hawking), pada tahun 1995.
Pada Oktober 2006, Hawking meminta bercerai dari istri keduanya. Ketika ditanyakan mengenai IQnya pada tahun 2004, Hawking menjawab, “Saya tidak tahu. Orang yang membanggakan IQnya adalah seorang pecundang.”

Pandangan religius
Hawking mengambil posisi agnostik dalam masalah agama. Ia telah menggunakan kata “Tuhan” (secara metaforis) untuk menggambarkan poin dalam buku-buku dan pidatonya.

Mantan istrinya, Jane, menyatakan saat proses perceraian bahwa Hawking adalah seorang ateis. Hawking menyatakan bahwa ia “tidak religius secara akal sehat” dan ia percaya bahwa “alam semesta diatur oleh hukum ilmu pengetahuan.
Hukum tersebut mungkin dibuat oleh Tuhan, tetapi Tuhan tidak melakukan intervensi untuk melanggar hukum.” Hawking membandingkan agama dan ilmu pengetahuan pada tahun 2010, menyatakan: “Terdapat perbedaan mendasar antara agama, yang berdasarkan pada otoritas, [dan] ilmu pengetahuan, yang berdasarkan pada observasi dan alasan. Ilmu pengetahuan akan menang karena memang terbukti.”

Pada September 2010, The Telegraph melaporkan, “Stephen Hawking telah menyatakan bahwa Tuhan bukan pencipta alam semesta”.

Hawking menulis dalam bukunya, The Grand Design, bahwa “Karena adanya hukum seperti gravitasi, tata surya dapat dan akan membentuk dirinya sendiri. Penciptaan spontan adalah alasannya mengapa sekarang ada ‘sesuatu’ dan bukannya kehampaan, mengapa alam semesta ada dan kita ada. Tidak perlu memohon kepada Tuhan untuk memulai segalanya dan menggerakan alam semesta.”

Penghargaan
• 1975 Eddington Medal
• 1976 Hughes Medal of the Royal Society
• 1979 Albert Einstein Medal
• 1981 Franklin Medal
• 1982 Order of the British Empire
• 1985 Gold Medal of the Royal Astronomical Society
• 1986 Anggota Pontifical Academy of Sciences
• 1988 Wolf Prize dalam bidang fisika
• 1989 Prince of Asturias Awards in Concord
• 1989 Companion of Honour
• 1999 Julius Edgar Lilienfeld Prize of the American Physical Society[22]
• 2003 Michelson Morley Award of Case Western Reserve University
• 2006 Copley Medal of the Royal Society[23]
• 2008 Fonseca Price of the University of Santiago de Compostela[24]
• 2009 Presidential Medal of Freedom[25]

Masa Kecil Stephen Hawking

STEPHEN HAWKING lahir saat Perang Dunia II tengah seru-serunya.

Orangtuanya tinggal di Highgate, London utara. Suasana malam hanya diisi oleh suara burung hantu, sirine serangan udara, kerlip-kerlip lampu sorot, dan suara gemuruh bom-bom Jerman.
Untuk memastikan keselamatan kelahiran anak pertama mereka, Frank dan Isobel Hawking memutuskan untuk sementara pindah ke Oxford beberapa hari sebelum Hawking lahir. Tentara Jerman setuju untuk tidak membom Oxford dan Cambridge, karena kedua tempat tersebut memiliki kekayaan arsitektur yang tak ternilai; sebagai gantinya, pasukan Sekutu setuju untuk tidak membom kota-kota historis Jerman: Heidelberg dan Gottingen.

Seperti kata Isobel Hawking: “Sayang sekali, persetujuan yang beradab seperti ini tidak diperluas ke tempat-tempat lain.” Dia melahirkan anak laki-laki di Oxford tanggal 8 Januari 1942, yang bertepatan dengan peringatan hari kematian Galileo, yang terjadi tepat tiga ratus tahun sebelumnya, yaitu tahun 1642.

Kebetulan yang lainnya, Newton juga dilahirkan pada tahun tersebut. Pertanda astrologis semacam ini bagi seorang astronom dianggap sangat baik — jika kita mempertimbangkan fakta bahwa kedua bidang tersebut sama-sama eksklusif.

Frank dan Isobel Hawking pernah belajar di Oxford. Frank adalah seorang dokter yang terlibat dalam penelitian medis, dan sering ke luar negeri.

Sementara di lain pihak, karier Isobel secara perlahan surut karena tidak adanya kesempatan — dimulai dari pekerjaan sebagai petugas pajak, lalu menjadi sekretaris di sejumlah tempat. Beberapa tahun kemudian Maggie Thatcher mengambil alih Oxford University Conservative Association.

Selama perang, kaum wanita dipekerjakan dalam urusan pemerintah. Yang lain melarikan diri dan bekerja di perkebunan, atau merasakan “kebebasan” dengan bekerja di pabrik-pabrik dan melakukan pekerjaan kaum pria.

Saat bertemu Frank Hawking yang baru saja pulang dari tugas penelitian medis di Afrika, Isobel bekerja sebagai sekretaris. Mereka lalu menikah, dan selanjutnya memiliki empat anak. Isobel masih tetap seperti dulu, dan tujuan dalam hidupnya adalah untuk memberikan pengaruh formatif pada anak-anaknya.

Namun demikian, kehidupan Isobel masih belum terpenuhi. Dia menemukan salah satu penyaluran dalam idealisme. Dia pada awalnya adalah orang yang percaya pada komunisme, namun kemudian memperlunak pendiriannya, tapi tetap berkomitmen pada pandangan sosialis.

Selanjutnya, dia ikut serta dalam kampanye perlucutan senjata nuklir dengan melakukan long march dari Aldermaston sampai London, di mana saat itu usaha untuk menyelamatkan manusia dari bencana nuklir dianggap merupakan suatu kegiatan yang sangat antisosial.

Tahun 1950 keluarga Hawking pindah ke St. Albans, tiga puluh mil utara London, sebuah kota katedral yang menyenangkan (atau mungkin juga bisa dianggap sebuah kota terpencil yang menyeramkan). Di kota itu, Frank menjadi kepala divisi parasitologi di National Institute for Medical Research. Keluarga Hawking terus mempertahankan kehidupan intelektual ortodoks, yang selanjutnya oleh orang-orang lain dianggap sangat eksentrik.

Rumah mereka penuh dengan buku; perabotan rumah tangga dipilih yang benar-benar nyaman digunakan, bukan digunakan untuk menunjukkan status; gorden tidak pernah dicuci dan kadang bahkan tidak ditutup saat malam hari. Dan beberapa orang tetangga mereka memperhatikan bahwa keluarga tersebut mendengarkan Third Programme (acara drama dan musik klasik yang disiarkan khusus bagi kaum awam di pembuangan).

Di waktu senggang, Frank bahkan menulis beberapa novel (yang tidak pernah dipublikasikan, dan diejek oleh istrinya sebagai hasil bualan belaka). Dan tokoh idola Stephen muda adalah Bertrand Russell dan Gandhi, bukan bintang olah raga atau bintang film.

Di musim panas, keluarga Hawking berlibur dengan mengendarai mobil (bekas taksi London) sambil membawa trailer mereka. Trailer ini biasanya diparkir di lapangan Osmington di Dorset, dekat Ringstead Bay.

(Tidak perlu dikatakan bahwa trailer mereka juga bukan trailer biasa: sebuah trailer Gypsy kuno, dengan cat ala Gypsy yang mencolok). Keluarga Hawking bukan termasuk keluarga kaya, tapi juga tidak miskin. Demikian juga, mereka terlihat tidak lebih bahagia atau lebih sengsara dibandingkan sebagian besar keluarga kelas menengah di masa itu.

Dari keluarga “rata-rata” ini, terlahir seorang anak yang juga “rata-rata”. Saat berumur sepuluh tahun, Stephen disekolahkan di sekolah terbaik: St. Albans School, dengan SPP sebesar lebih dari lima puluh pound per semester, atau sekitar seratus lima puluh dollar.

Stephen adalah seorang siswa bertubuh kecil, kikuk, dan secara fisik tak terkoordinasi: jenis siswa yang sangat mudah dikenali di antara berbagai siswa lain di sekolah tersebut.

Selanjutnya Stephen mulai tertarik dengan kegiatan laboratorium, dan bahkan memiliki laboratorium sendiri di rumahnya. Kamarnya penuh dengan tabung uji, sisa-sisa berbagai macam eksperimen, serta berbagai petunjuk sederhana cara membuat bubuk mesiu, racun sianida, dan gas air mata.

Stephen terlihat menikmati hidup dalam dunia yang tertata secara teoretis, dan selalu berusaha menantang struktur dunia tersebut sampai batasnya. Dia mungkin tidak terlihat seperti seorang anak yang tidak bahagia, namun yang pasti dia bukan anak biasa.

Fokus mentalnya sangat abstrak, dan kelihatannya didorong oleh sesuatu yang lebih kuat dari sekadar kecenderungan alami.Juara kelas di sekolah Stephen, temannya bernama Michael, menganggapnya sebagai seorang “jenius kecil yang aneh”. Suatu hari, saat berada di laboratorium Stephen, mereka mulai berbicara tentang “hidup dan filsafat”.

Michael mengatakan bahwa Stephen sangat tertarik dengan filsafat, namun saat percakapan mereka berlangsung, dia menyadari bahwa Stephen secara sengaja mendorongnya untuk mempermainkan dirinya sendiri.

Itu merupakan saat-saat yang sangat membingungkan bagi Michael, yang tiba-tiba merasa dirinya tengah dilihat oleh seorang pengamat. “Saat itu aku menyadari untuk yang pertama kalinya bahwa dia tidak hanya cerdas, tidak hanya pintar, namun luar biasa.”

Dia juga menyadari tentang “adanya semacam arogansi, jika bisa dikatakan demikian, semacam gagasan tentang apa yang disebut sebagai dunia.” Jenius kecil yang aneh itu tampaknya telah menghabiskan waktu cukup lama untuk memikirkan segala sesuatu: berusaha mencari arti tentang dunia.

Secara bertahap mulai terlihat jelas bahwa Stephen cukup cerdas, namun apa yang dimilikinya tidak didukung oleh standar-standar akademik di sekolahnya yang terbilang cukup bergengsi. Dia tidak pernah belajar secara serius namun tetap memperoleh nilai yang baik di sekolah, meskipun tidak pernah menjadi juara.

Otaknya tajam, namun bicaranya terlalu cepat untuk bisa dipahami. Di rumah, saat berada di “sarangnya” bersama beberapa teman sekolahnya, dia menciptakan beberapa permainan. Namun permainan – permainan ini jarang ada yang bisa diselesaikan dalam waktu lima jam, dan bahkan kadang memerlukan waktu selama seminggu penuh.

Dan tidaklah mengejutkan bila teman-temannya cepat bosan dan akhirnya dia bermain sendirian, melawan dirinya sendiri. Baik teman – temannya ataupun keluarganya tercengang oleh kemampuannya dalam memikirkan sejumlah permasalahan yang sangat rumit, yang kadang berlangsung selama berjam-jam, sampai akhirnya dia mampu memecahkannya.

Menurut sang ibu: “Permainan itu hampir menjadi pengganti hidupnya.”

©

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s